Yang mau download ini linknya
http://www.2shared.com/file/10273485/cfb78645/WIRAGAME.html








Bahasa Latin merupakan warisan kekayaan kebudayaan dunia. Bahasa ini pernah menjadi bahasa "international" ketika Kekaisaran Romawi berkuasa. Sampai sekarang masih sangat banyak karya sastra dan dokumen-dokumen yang sangat berharga dalam bahasa Latin.
Memang saat ini bahasa Latin tidak menjadi lagi bahasa yang dipakai dalam percakapan sehari-hari. Namun tetap saja dimana-mana masih terus saja banyak orang dan kelompok menggali kekayaannya. Logika kalimat yang sangat ketat terbukti sangat membantu orang yang mempelajarinya menjadi orang yang memiliki ketajaman berfikir, kecerdasan dalam menganalisa, serta kecakapan berbicara yang akhirnya juga akan membentuk pribadi yang meyakinkan.
Sangat bagus pepatah kuno Cicero yang mengatakan: “Non tam praeclarum est scire Latine, quam turpe nescire”. (Bukanlah hal yang mengagumkan mengetahui Bahasa Latin, namun memalukanlah kalau tidak mengetahuinya).
Maka marilah kita mulai masuk menggali kekayaannya bukan untuk menjadi orang yang mengagumkan, melainkan juga tidak terlalu memalukanlah.
HURUF DAN PENGUCAPAN
Dari berbagai sumber yang ada nampaknya tidak ada keseragaman dalam menentukan berapa jumlah huruf dalam bahasa Latin. Sebenarnya perbedaannya hanya terletak dalam memasukkan atau tidaknya huruf-huruf yang berasal dari kata-kata asing (Yunani). Pada umumnya saat ini banyak orang sepakat bahwa jumlah huruf dalam bahasa Latin ada 23, yakni:
A B C D E F G H I K L M N O P Q R S T V X Y Z
Beberapa catatan:
Pengucapan
Sebenarnya pengucapan bahasa Latin tidaklah sulit, karena mirip juga dengan bahasa Indonesia. Dalam hal pengucapan juga terdapat perbedaan, sesuai dengan periode, tempat, dan juga kelas sosial di mana bahasa ini digunakan. Namun untuk saat ini, khususnya dalam sekolah-sekolah Italia dan Gereja, digunakan cara pengucapan dari jaman eklesiastica, yakni dari sekitar abad IV-VI M.
Akan tetapi kalau didahului oleh huruf «s, t, x» maka tetap diucapkan «ti», contoh: bestia, cottius, mixtio. Demikian juga kalau huruf «i» mendapatkan tekanan, (eg. totīus, Miltīades) maka tetap diucapkan «ti».
Pengucapan Klasik (Kuno)
Mungkin baik juga mengetahui juga beberapa cara pengucapan kuno, yang digunakan sekitar abad II S.M. sampai abad I M.
Cara pengucapan seperti ini masih sering terdengar dan dipertahankan baik di Italia (untuk bahasa dan sastra Latin pada umumnya), namun terutama di luar Italia (Polandia, Belanda, Brasilia, dsb.). Namun saat ini Gereja di Roma tidak menggunakan cara pengucapan (dan penulisan) ini.
TENTANG AKSEN ATAU TEKANAN KATA
Yang dimaksudkan dengan aksen adalah cara pengucapan suatu vokal (dalam suatu suku kata); apakah suatu vokal itu diucapkan secara pendek atau panjang. Vokal yang diucapkan secara pendek di atasnya diberi tanda “ ˘ ” (eg. fugĕre, dicĕre, interficĕre); sedangkan vokal yang diucapkan secara panjang ditandai dengan “ ˉ ” (eg. timēre, laudāvi, amavīsti).
Dalam bahasa Latin penting memperhatikan nilai panjang-pendeknya suatu vokal, untuk menentukan cara pengucapakan suatu kata, yakni di mana aksen (tekanan suara) harus diberikan dalam suatu kata. Kiranya cara pengucapan ini sangat penting dalam bahasa Latin, selain akan mempengaruhi keindahan, namun terutama menentukan arti kata tersebut. Contoh:
| - pŏpulus (bangsa, rakyat) | - pōpulus (sejenis pohon) |
| - lĕvis (ringan) | - lēvis (licin) |
Memang mengenai aksen ini cukup sulit, mengingat bahwa bahasa Latin tidak lagi menjadi bahasa percakapan sehingga kita tidak bisa mendengarkannya.
Namun ada beberapa aturan yang masih bisa menjadi pedoman:
Untuk mempermudah cara pengucapan yang tepat, maka dalam beberapa teks biasanya disertai dengan tanda tekanan suara (aksen) dengan tanda ′ (eg. fúgere, dícere, fácere). Namun biasanya dalam kebanyakan teks tidak ditunjukkan baik panjang-pendeknya vocal maupun tekanan suku katanya. Untuk itu tidak ada cara lain kecuali melihat di kamus, itupun kalau di kamus di tunjukkan.